|
Hari Sebelumnya
Mei 17
Baca I Tawarikh 17, 18, 19, 20
Ketika Daud membandingkan keindahan dan kemewahan istananya dengan kondisi Kemah Suci yang lama yang menjadi tempat kediaman Allah, ia menjadi malu. Daud ingin membangun sebuah Bait Allah yang akan memperlihatkan penghargaannya kepada Allah. Ia percaya bahwa tempat kediaman Allah sebagai Satu-Satunya Raja yang benar haruslah yang terbaik. Karena itu ia berkata kepada nabi Natan: Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut prjanjian Tuhan itu ada di bawah tenda-tenda. Lalu berkatalah Natan kepada Daud: Lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Allah menyertai engkau (I Tawarikh 17:1-2). Namun, pada malam itu juga datanglah firman Allah kepada Natan demikian: Pergilah, katakanlah kepada hambaKu Daud: Beginilah firman Tuhan: Bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah bagiKu untuk didiami (17:3-4). Daud kemudian menjelaskan kepada Salomo: Firman Tuhan datang kepadaku demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tanah di hadapanKu (22:8).
Namun, Daud mempersiapkan hampir semua bahan yang akan digunakan bagi pembangunan Bait Allah dan mengadakan rencana bagi pembangunannya. Allah menghargai segala upaya yang dilakukannya dengan berkata: Tuhan akan membangun suatu keturunan bagimu ...... maka Aku akan membangkitkan .... salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya ... dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya (I Tawarikh 17:10-14).
Tentu saja Daud tidak dapat memahami keindahan dari janji ini yang kita tahu telah digenapi di dalam Yesus Kristus, Anak Allah, Raja atas segala raja, dan Tuan di atas segala tuan, yang akan memmerintah seluruh bumi.
Sikap Daud yang pertama yang ia tunjukkan bukan bersukacita karena ia akan menjadi orang yang penting, melainkan sebaliknya ia merasa tidak berlayak melakukannya: Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku? Untuk melihat siapakah Allah itu sebenarnya dan memahami keberadaan kita yang sebenarnya bila dibandingkan dengan Dia, pasti akan membuat kita merendahkan diri. Ya Tuhan, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau (17:16-20).
Tanggapan Daud diwarnai dengan pengucapan syukur yang dalam kepada Raja alam semesta ini atas perhatian dan pemeliharaanNya terhadap setiap makhluk ciptaanNya (Mazmur 8:4). Sikap kerendahan mewarnai seluruh perkataan Daud: Siapakah aku ini .... sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? Manusia duniawi, yang telah dikuasai oeh sifat dosa, serta kebanyakan masyarakat kitapun, cenderung bersikap sombong dan angkuh atas setiap kemajuan atau peningkatan yang dicapai, dan cenderung merasa berlayak untuk menerimanya. Tuhan yang Mulia senang memberkati mereka yang dengan jujur mengaku: "Siapakah aku ini?"
Walaupun Allah tidak mengizinkannya untuk membangun Bait Allah, namun Daud menyadari bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepadanya suatu kehormatan yang sangat tinggi, karena keturunannya akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya (I Tawarikh 17:24). Sama seperti Daud, kitapun memperoleh kesempatan untuk menyaksikan kebesaran Tuhan kita yang mulia pada saat kita memuji Dia dengan sikap kerendahan yang benar dan kerelaan untuk melayani Dia. Walaupun kebanyakan kita mudah mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan atas jawaban-jawaban atas doa dan "hal-hal yang baik" yang kita terima, namun hanya sedikit dari kita yang bisa memuji Tuhan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Namun Allah itu tetap dihormati dan dipuji apapun situasinya. Melalui sikap sedemikian, kita mengakui bahwa Allah, dalam hikmatNya yang tak terbatas, tetap mengasihi dan memperhatikan kita dan tetap mengendalikan setiap keadaan atau situasi yang menimpa kehidupan kita anak-anakNya
Sama seperti Daud, kita pun harus berkata: "Siapakah aku ini?" sehingga kita boleh menerima janji-janjiNya yang sangat indah! Berbahagialah dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya (Wahyu 20:6).
Kristus Digambarkan:
Oleh Daud, gembala-raja yang agung (I Tawarikh 17:7; bandingkan Mat. 1:1-2; Roma 1:3), yang menggambarkan Kristus sebagai Gembala yang Baik (Yohanes 10:11) dan Raja atas segala raja (Wahyu 19:16).
Saran Doa:
Hendaklah iman anda kepada firman Allah mengusir segala ketakutan (Mazmur 18:30; II Timotius 1:7).
Bacaan Tambahan:
I Korintus 4
Ayat Hafalan Minggu Ini:
I Petrus 1:18
Hari Berikutnya
|